Sekolah Unggulan

October 24, 2018

 

 


Saat ini banyak dibahas tentang sekolah unggulan, berstandar internasional, bahkan dari tahun 1990 telah bermunculan sekolah-sekolah unggul, bukan saja di kota-kota besar, tetapi juga di kota kabupaten, menyebar di seluruh Indonesia.

Tentang sekolah-sekolah unggul yang di selenggarakan di berbagai kota di Indonesia, ternyata konsep sekolah unggul masih di artikan dengan persepsi yang berbeda-beda. Perbedaan persepsi tentang sekolah unggul semakin ramai, apalagi ketika masing-masing pihak memiliki konsep sendiri-sendiri tentang sekolah unggul. Perbedaan persepsi ini tentu saja tidak selalu mengandung unsur negatif, karena dari polemik yang ada apabila masing-masing konsep diambil yang terbaik, kemudian di gabungkan, tentu akan memunculkan konsep yang terbaik. Kekurangan masing-masing konsep di isi oleh kelebihan-kelebihan yang lain.

Beberapa tipe sekolah unggul
Sekolah unggul tipe 1 adalah sekolah yang inputnya unggul, dengan proses belajar mengajar yang tidak luar biasa, begitu juga dengan fasilitas sekolahnya dan pada akhirnya mempunyai lulusan yang bermutu unggul. Keunggulan lulusan sekolah ini memang merupakan bawaan sebelum siswa masuk sekolah tersebut.

Sekolah unggul tipe 2 adalah sekolah yang mempunyai fasilitas luar biasa, luas sekolah, kolam renang, lapangan sepak bola, asrama siswa, ruang kelas ber ac lengkap dengan media pengajaran yang canggih audio maupun video, dan berbagai fasilitas lainnya. Sekolah ini juga di tunjang dengan guru-guru yang profesional, dengan tentu saja murid-murid pilihan. Pada akhirnya di harapkan lulusannya juga akan bermutu tinggi. Tentu saja sekolah unggul tipe 2 ini biaya pendidikannya lumayan mahal, ada yang uang pangkalnya 6 juta, sampai yang diatas itu. Ukuran yang sangat mahal bagi mayoritas orang Indonesia, tetapi memang tidak mahal apabila di bandingkan dengan bersekolah keluar negeri, seperti, Inggris, Australia, dan sekolah-sekolah di Eropa. Sekolah ini juga bertujuan untuk memenuhi keinginan masyarakat Indonesia yang mempunyai kemampuan lebih untuk menyekolahkan anaknya keluar negeri.

Sekolah unggul tipe yang terakhir adalah sekolah yang mampu memproses siswa bermutu rendah atau siswa yang mempunyai mutu standar waktu masuk sekolah ( input yang rendah), menjadi lulusan yang bermutu tinggi ( output tinggi). Pada sekolah unggul tipe terakhir ini terjadi proses belajar mengajar yang efektif. Sekolah unggul tipe terakhir ini yang seharusnya banyak di kembangkan pada sekolah-sekolah di Indonesia , sebab dengan menerapkan program seperti ini, di mungkinkan dapat di ikuti oleh semua murid dari berbagai latar belakang keluarga. Sekolah unggul seperti ini tidak terlalu memerlukan dana besar untuk pembiayaan alat-alat penunjang sekolah, seperti laboratorium komputer, lapangan olah raga dan lain sebagainya.

Faktor-faktor keefektifan sekolah dianggap penting. Faktor-faktor tersebut adalah: dedikasi guru yang tinggi; kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan bijaksana; kepercayaan kepada siswa dan guru bahwa prestasi akademik yang tinggi bisa dicapai; pemantauan yang kontinyu terhadap kemajuan siswa; iklim belajar yang positif; kesempatan yang cukup untuk belajar; serta pelibatan orang tua dan masyarakat dalam program sekolah dan tentu saja terjadinya hubungan yang jelas dan transparan dengan komite sekolah dan seluruh warga sekolah.
Sekolah unggul dengan mengutamakan anak-anak bermutu standar dari keluarga miskin sebagai inputnya akan sangat bermanfaat bagi seluruh anak-anak Indonesia dari berbagai daerah, sebab pada kenyataannya hadirnya sekolah standar nasional dan sekolah rintisan berstandar international semakin mempertegas perbedaan antara kaya dan miskin karena tidak sedikit anak yang cerdas tetapi miskin, apalagi anak yang standar dan miskin sudah pasti terganjal oleh biaya pendidikan yang mahal. Di sekolah ini kelak, anak-anak yang memang sudah pintar dan tentu harus kaya, di tambah guru-guru yang di pilih, di tunjang dengan sarana dan prasarana yang luar biasa, subsidi yang juga lumayan dari pusat dan daerah akan semakin memperlebar ketimpangan dengan sekolah-sekolah yang menampung mayoritas warga pas-pasan ekonomi dan otaknya di bantu dengan subsidi ala kadarnya yaitu BOS.

Sebagian orang berpendapat bahwa adalah wajar mengeluarkan biaya mahal bagi sebuah pendidikan yang bermutu dan berkualitas, akan tetapi perlu juga di pertimbangkan bahwa sebagian besar masyarakat kita belum mampu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang berstandar nasional dan international karena keterbatasan ekonomi. Kita juga harus mempertimbangkan nasib pendidikan generasi penerus bangsa ini yang tinggal di pinggiran kota, desa-desa miskin, terpencil dan kumuh dengan penghasilan orang tua mereka yang untuk makan sehari-hari saja susah, minim sarana dan prasana, sebagian besar dari mereka hanya bisa bersekolah di sekolah-sekolah yang minim sarana dan prasarana, mutu jelek, kekurangan guru, disiplin rendah, belum lagi orang tua masih tetap harus mengeluarkan biaya untuk pendidikan anak mereka. Seharusnya yang di lakukan oleh kita semua yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan negeri ini, lebih memfokuskan pemerataan pendidikan di seluruh daerah Indonesia sampai ke desa-desa terpencil, terutama pembangunan phisik sekolah supaya kita tidak lagi mendengar atau melihat adanya sekolah-sekolah yang hampir rubuh karena tidak pernah mendapat bantuan perbaikan. Terlalu memaksakan diri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain, tapi melupakan hal-hal yang dasar bagi pendidikan di negeri ini, hanya akan mengakibatkan kita semakin salah melangkah.

Data susenas tahun 2003 bisa jadi bahan pemikiran kita bahwa dari 42 juta anak usia sekolah ( 7 – 18 tahun) hanya 64,5% pendidikan tertingginya SD, kemudian 35,5% pendidikan tertingginya SMP selanjutnya dari jumlah itu hanya 16,8% yang sanggup menamatkan pendidikannya sampai SMA. Dari data di atas kita dapat melihat terus terjadinya penurunan kemampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada level yang lebih tinggi. Hal ini semua menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita masih banyak yang belum mampu mengakses pendidikan.

Sebagai warga masyarakat biasa kita berharap agar kelak pendidikan di negeri ini benar-benar bisa di jangkau oleh setiap lapisan masyarakat, di mulai dari daerah-daerah yang terpencil, yang mempunyai penghasilan rendah, sedang sampai tinggi. Mudah-mudahan alokasi dana 20% bagi pendidikan bisa perlahan-lahan tapi berjalan terwujud begitu juga dana BOS tidak terlalu sering terlambat, sehingga sekolah harus menanggung beban operasional sekolah dengan cara menghutang terlebih dahulu, penggunaan kata-kata sekolah gratis juga harus hati-hati, di jelaskan secara jelas apa yang saja yang gratis dan tidak. Akhirnya pemerataan pendidikan merupakan hal dasar tetapi sangat penting bagi pendidikan di negeri ini, sehingga setelah bangunan phisik semua sekolah di seluruh pelosok baik, anak-anak mampu sekolah mulai dari desa sampai kota dengan biaya yang bisa terjangkau, syukur kalau gratis, maka barulah perlahan tapi pasti semua sekolah yang ada bisa di tingkatkan menjadi sekolah bermutu nasional dan international.

 

https://www.kompasiana.com/f3ri/5612fe4e2e977359058b4567/sekolah-unggulan-seperti-ya

 

Please reload

Featured Posts

Mengapa Bahasa Inggris dan Mandarin adalah Bahasa Dunia?

February 12, 2018

1/5
Please reload

Recent Posts

October 24, 2018

Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags
Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square